Jenis Operasi Untuk Gangguan Pendengaran

Hampir sepuluh persen penduduk di dunia memiliki beberapa tipe gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran yang mereka alami mempengaruhi komunikasi, hubungan mereka, kesehatan, dan bahkan karir yang sedang mereka jalani. Jika anda mengalami gangguan pendengaran, anda pasti ingin tahu jika ada operasi gangguan pendengaran yang mana dapat mengembalikan fungsi pendengaran. Jawaban singkatnya, tergantung. Ada beberapa operasi gangguan pendengaran yang dapat dilakukan jika anda memiliki jenis tertentu pada gangguan pendengaran. Namun, hanya sebagian kecil orang dengan gangguan pendengaran yang merupakan kandidat yang cocok untuk operasi gangguan pendengaran.

Operasi gangguan pendengaran sensorineural

Jika anda didiagnosa dengan gangguan pendengaran sensorineural, anda berada pada kondisi yang baik. Kadang – kadang kondisi ini disebut tuli saraf. Gangguan pendengaran jenis ini adalah jenis gangguan yang paling umum yang dialami orang – orang dewasa. Pada beberapa kondisi terjadi karena berbagai alasan, seperti karena penuaan, paparan polusi suara, penyakit dan infeksi, trauma akustik, atau akibat tumor dan obat – obatan.

Gangguan pendengaran sensorineural ialah kondisi dimana rambut sel pada telinga dalam atau urat saraf yang menghubungkan telinga bagian dalam dengan otak telah rusak. Rambut sel ini terletak pada koklea, yang berfngsi untuk merubah suara yang diterima telinga bagian luar menjadi impuls elektrik dan mengirimkannya ke saraf pendengaran guna diterjemahkan oleh otak sebagai suara yang dikenali. Gangguan pendengaran sensorineural bersifat permanen. Tidak ada operasi yang dapat memperbaiki sensor dari rambut sel itu sendiri. Tetapi, terdapat operasi gangguan pendengaran yang dapat memotong sel – sel yang telah rusak.

Implan Koklea

Orang dewasa dan anak – anak yang tidak terbantu menggunakan alat bantu dengar untuk mengurangi gangguan pendengaran, dapat meminta untuk dilakukan implan koklea. Tidak seperti alat bantu dengar konvensional yang memperkuat suara, implan koklean melewati bagian yang rusak pada sistem pendengaran untuk langsung merangsang sistem saraf pendengaran. Berikut ini adalah dua komponen utama yang termasuk kedalam implan koklea:

  1. Implan, sebuah perangkat elektronik berukuran kecil yang diletakkan dengan cara pembedahan pada bawah kulit di belakang telinga. Perangkat ini terhubung dengan elektroda yang mana telah dimasukkan dalam koklea.
  2. Komponen Eksternal, sebuah unit yang terlihat hampir sama dengan alat bantu dengar. Unit ini memiliki mikrofon, prosesor ucapan, dan kompartemen baterai. Mikrofon menangkap suara yang mana oleh prosesor ucapan diterjemahkan sebagai sebuah sinyal elektrik. Sinyal ini ditransmisikan melewati kulit menuju stimulus elektrik internal, yang mana mengirim sinyal ke elektroda pada koklea.
Baca Juga :  Kondisi Telinga yang Seperti Apa Yang Bisa Menggunakan Alat Bantu Dengar?

Operasi implan koklea biasanya dilakukan secara rawat jalan setelah adanya evaluasi kesehatan menyeluruh pada pasien telah selesai. Ini termasuk pengujian telinga dan anatominya, sistem pendengaran dan sebuah uji fisik keseluruhan. Mayoritas operasi tidak akan dilakukan implan koklean kecuali jika pasien sudah mencoba alat bantu dengan namun tidak berhasil. Karena operasi ini bersifat invasif, maka operasi ini hanya diperuntukkan bagi pasien yang mengalami gangguan pendengaran yang parah.

Operasi gangguan pendengaran konduktif

Gangguan pendengaran konduktif terjadi ketika adanya kerusakan pada bagian lebih luar atau tengah telinga yang mana berfungsi mencegah suara dihantarkan ke telinga bagian dalam. Gangguan pendengaran konduktif mungkin temporer atau bisa permanen, tergantung penyebab dan sesuatu hal, intervensi medis atau operasi dapat mengembalikan pendengaran.

Demikian adalah informasi mengenai operasi gangguan pendengaran. Pada beberapa kasus gangguan pendengaran memang dapat diatasi cukup dengan menggunakan alat bantu dengar. Tetapi pada kasus yang lebih parah, disarankan dilakukan operasi atau pembedahan. Mari bersama – sama membangun Indonesia sehat.