Ciri Anak Yang Tuna Wicara

tuna wicara pada anak

Bagi anda yang memiliki anak dengan gangguan tuna wicara mungkin menjadi masalah yang sangat berarti bagi anda ataupun keluarga. Tuna wicara sendiri merupakan sebuah gangguan ataupun hambatan yang biasanya dialami oleh manusia. Pada anak yang mengalami gangguan ini maka ia akan kesulitan untuk melakukan komunikasi secara verbal hingga dimengerti oleh lawan bicara. Akan tetapi, kualitas hidup dari si tuna wicara itu bisa saja meningkat dengan adanya terapi tuna wicara. Jika anda memiliki anak yang sedang mengalami tuna wicara maka sebaiknya anda tidak perlu berkecil hati. Meski divonis mengalami tuna wicara namun tetap saja bukan berarti anak tidak bisa mengeluarkan suara apapun. Ingin tahu bagaimana ciri-ciri, penyebab dan cara mengatasi anak yang tuna wicara? Yuk, simak ulasan berikut bersama Hearing Center Jakarta!

Ciri-Ciri Anak Tuna Wicara

Berikut ini adalah ciri-ciri anak yang mengalami tuna wicara:

  1. Anak yang mengalami tuna wicara maka sejak bayi usia 3 bulan ke atas ia tidak bisa mengeluarkan senyuman serta tidak mengeluarkan suara ketika kita mencoba untuk menyapanya.
  2. Pada usia 6 bulan ke atas, ia tidak bisa memalingkan kepala ketika ada suara yang muncul baik itu dari samping ataupun dari belakang si bayi.
  3. Di usia 10 bulan ke atas, ia belum bisa memahami ketika ada panggilan untuknya dan dia tidak mengeluarkan reaksi apapun atas hal ini.
  4. Selanjutnya di usia 2 tahun ia belum bisa dan sulit mengucapkan kata-kata yang seharusnya pada usia ini seharusnya anak sudah mulai berbicara.
  5. Pada saat usia sudah mencapai 2 tahun, ia belum mahir untuk mengucapkan banyak kata seperti anak normal pada umumnya.
  6. Ketika usianya mencapai 3 tahun, keluarga masih belum bisa memahami bahasa si anak.
  7. Kemudian pada saat usia anak mencapai 7 tahun dan ia masih sangat kesulitan untuk mengucapkan kata yang benar.
  8. Bahkan di saat usianya sudah mencapai usia dewasa, ia masih mengalami suara yang sengau dan bindeng.
  9. Ketika anak mulai tumbuh besar dimana anak seusianya seharusnya sudah bisa berbicara dan ia bahkan tidak bisa menirukan bahasa yang di ucapkan oleh orang tua ataupun keluarga. Meskipun kata-kata itu adalah kata-kata yang muncul di dalam kesehariannya.
Baca Juga :  Mengapa Kita Memiliki Kotoran Telinga?

Selain tanda-tanda di atas, beberapa tanda lain yang bisa anda lihat dan rasakan ketika anak anda mengalami tuna wicara adalah beberapa hal berikut:

  • Sering melakukan pengulangan serta memperpanjang suara
  • Suara yang muncul sangat melengking
  • Ia berbicara dengan suara yang sangat pelan ataupun serak
  • Kesulitan untuk mengucapakan kata yang benar dan terlihat berusaha keras untuk bisa mengucapkan kata yang benar.

Penyebab Tuna Wicara pada Anak

Berbicara mengenai penyebab tuna wicara yang terjadi pada anak maka ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Berikut adalah beberapa penyebab tuna wicara yang terjadi pada anak:

1.    Faktor Sentral

Pertama, faktor sentral yang merupakan adanya kerusakan di susunan saraf pusat. Hal ini mengakibatkan anak memiliki ketidakmampuan untuk menggunakan bahasa verbal yang spesifik. Selain itu, ini juga menimbulkan adanya keterbelakangan mental, autism, AHDH dan berbagai bentuk gangguan fungsi kognitif lainnya.

2.    Faktor Periferal

Selanjutnya adalah gangguan yang disebabkan oleh faktor peripheral. Faktor ini berhubungan dengan berbagai jenis gangguan fisik atau sensoris contohnya gangguan pendengaran. Salah satu penyebab anak mengalami gangguan bicara adalah adanya gangguan pada motoric yang berhubungan pula dengan kemampuan berbicaranya.

3.    Faktor Lingkungan dan Emosional

Anak yang mengalami sebuah kejadian traumatic hingga menyebabkan ia mengalami stress berat, maka ini juga bisa menjadi penyebab anak mengalami gangguan wicara. Selain itu bentuk lainnya adalah adanya penelantaran, gangguan dalam perilaku dan emosi serta mengalami penganiayaan.

4.    Campuran

Sesuai namanya maka faktor penyebab yang ke empat ini ialah gabungan atau campuran dari ketiga faktor lainnya yaitu sentral, peripheral serta lingkungan.

Apa yang Harus Dilakukan?

Bagi anda yang curiga bahwa anak anda mengalami berbagai bentuk ciri yang telah di sebutkan sebelumnya, maka anda harus segera membawanya ke dokter anak terlebih dahulu atau anda juga bisa langsung membawanya ke dokter spesialis THT. Pada tahap ini anak tentunya akan diperiksa terlebih dahulu mengenai sistem pendengarannya. Hal ini dikarenakan gangguan pada pendengaran seringkali berhubungan dengan terjadinya gangguan bicara pada anak. Melalui hal ini maka anak anda akan mengalami berbagai macam tes sebelum diputuskan untuk menjalani terapi wicara.

Baca Juga :  Apa Perbedaan Implan Koklea dengan Alat Bantu Dengar? Ketahui Selengkapnya Disini!

Terapi Tuna Wicara

Terdapat berbagai macam jenis terapi yang bisa anda berikan pada anak anda. Berikut adalah beberapa jenis terapi wicara:

1.    Aktifitas Interfensi Barbahasa

Bentuk terapi pertama ialah mengikutkan anak pada kegiatan yang melatih komunikasinya melalui berbicara, menunjukkan berbagai objek, gambar serta berbagai aktivitas lainnya yang di lakukan secara berulang.

2.    Terapi Artikulasi

Jenis terapi ini memiliki tujuan agar anak bisa mengeluarkan banyak kosa kata dan melatih si anak untuk melafalkan kata tersebut. Pada bentuk terapi ini tentu disesuaikan dengan usia dan keparahan dari gejala tuna wicara yang terjadi pada anak.

3.    Terapi Oral-Motor

Oral-Motor adalah jenis terapi fisik yang berfungsi untuk memperkuat otot yang ada di bibir, rahang dan lidah. Adapun contoh kegiatannya ialah dengan melakukan pijat wajah hingga meminta si anak untuk mengunyah makanan.

Tuna wicara pada anak juga bisa terjadi karena gangguan pendengaran. Oleh karena itu jika ini di deteksi menjadi penyebab, maka hal yang bisa anda lakukan ialah dengan memberikan anak ABD atau alat bantu dengar. Dokter biasanya juga akan meresepkan berbagai jenis obat yang bisa meredakan stress dan kecemasan anak terhadap aktifitas yang ada di lingkungannya.

Itulah informasi yang dapat kami berikan terkait dengan tuna wicara pada anak. Bagi anda yang ingin memberikan anak ABD, jangan lupa untuk mengunjungi Hearing Center Jakarta.