Penyebab Tuli Konginental serta Cara Menanganinya pada Anak-anak

tuli konginental anak

Tuli Kongenital adalah kondisi gangguan pendengaran yang dialami penderitanya sejak lahir, tepatnya sebelum persalinan atau justru saat persalinan berlangsung.

Nyatanya kondisi Tuli Kongenital bisa terjadi siapapun, karena penyebabnya karena faktor genetik maupun non genetik.

Semua orang tua tentu harapannya bayi dapat terlahir dengan kondisi sehat dan normal, namun terkadang kenyataan tidak sesuai harapan.

Dalam dunia medis, kondisi tulis yang dibawa sejak lahir disebut sebagai Tuli Kongenital, yang terjadi karena gangguan perkembangan pada sistem pendengaran.

musik klasik untuk bayi

Bagaimana Tuli Kongenital Dapat Terjadi?

Seperti yang sudah disebutkan, kondisi tulis bawaan sejak lahir terjadi karena gagalnya perkembangan sistem pendengaran telinga.

Tepatnya di telinga bagian dalam, dimana struktur koklea atau rumah siput, tidak dapat berfungsi maksimal yaitu menerima rangsangan pendengaran lalu mengirimkannya ke otak.

Koklea pada janin akan berkembang matang pada usia kehamilan 20 minggu, tepatnya trisemester pertama, namun jika terjadi gangguan maka akan menyebabkan janin mengalami gangguan pendengaran.

Meski begitu, kebanyakan kasus tulis sejak lahir terjadi karena gaktor genetik. Lebih dari 180 gen tuli telah dicatat dan dipelajari sebagai penyebab genetik dari gangguan pendengaran bawaan.

Gen-gen ini dapat mempengaruhi perkembangan berbagai aspek pendengaran, seperti silia (rambut-rambut kecil di dalam telinga) atau sel-sel saraf yang membantu menghantarkan suara ke otak.

Faktor lingkungan yang mempengaruhi janin, seperti infeksi, juga dapat berperan dalam perkembangan gangguan pendengaran sejak lahir.

Penyebab Tuli Kongenital Masa Mengandung Sampai Melahirkan

Penyebab Tuli Kongenital pada bayi yang baru lahir, bisa beragam. Mulai dari faktor genetik sampai faktor non genetik.

Bahkan bisa terjadi sebelum melahirkan, pada saat melahirkan, bahkan setelah melahirkan pun bisa menjadi penyebab bayi kehilangan pendengarannya.

Berikut ini penyebab Tuli Kongenital sebelum melahirkan (Prenatal) :

1, Faktor genetik. Terdapat riwayat anggota keluarga yang mengalami gangguan pendengaran sejak anak-anak.

2, Riwayat infeksi virus atau bakteri TORCHS (Toksoplasma, Rubela, Cytomegalovirus, Herpes, Sifilis) pada kehamilan

3,  Kelainan bentuk pada kepala dam wajah termasuk kelainan pada daun telinga dan liang telinga

4, Konsumsi obat yang tidak baik bagi perkembangan janin, seperti obat ototoksik dan teratogenetik

5, Kekurangan zat gizi saat masa mengandung

Penyebab Tuli Kongenital saat melahirkan (Perinatal) :

1, Kadar bilirubin yang tinggi atau kuning

2, Berat badan lahir rendah

3, Usia kehamilan belum cukup, lahir prematur

Penyebab Tuli Kongenital Setelah melahirkan (Posnatal) :

1, Infeksi bakteri dan virus

2, Trauma kepala, misalnya terjadi benturan pada kepala

Tipe Gangguan Pendengaran Tuli Kongenital

Gangguan pendengaran kongenital dikategorikan berdasarkan jenis transmisi suara yang terpengaruh. Ada tiga jenis gangguan pendengaran bawaan: konduktif, sensorineural, dan campuran.

1. Gangguan Pendengaran Konduktif

Pada gangguan pendengaran konduktif, telinga luar atau tengah dapat terpengaruh. Gelombang suara tidak dapat melewati telinga dengan baik.

Hal ini dapat disebabkan karena telinga tengah atau luar yang tidak terbentuk dengan benar, atau sebagai akibat dari penyumbatan di telinga tengah, seperti cairan dari infeksi yang menghalangi suara.

2. Gangguan Pendengaran Sensorineural

Pada gangguan pendengaran sensorineural, koklea (tulang di telinga bagian dalam) atau jalur saraf pendengaran telinga bagian dalam terpengaruh.

Jenis gangguan ini terbagi lagi menjadi dua:

  • Gangguan pendengaran sensorik: Di mana sel-sel rambut di dalam koklea terpengaruh
  • Gangguan pendengaran sentral: Di mana jalur pemrosesan pendengaran pusat terpengaruh

3. Gangguan Pendengaran Campuran

Gangguan pendengaran campuran adalah kombinasi dari gangguan pendengaran konduktif dan sensorineural

Bagaimana Diagnosis Kondisi Tuli Sejak Lahir

Mendiagnosis bayi baru lahir dengan gangguan pendengaran bawaan memerlukan tes khusus. Disarankan agar bayi diperiksa saat memasuki usia 1 bulan.

Sebagian besar bayi baru lahir yang lahir di rumah sakit melakukan screening dalam beberapa hari setelah lahir.

Tes screening  ini dapat terdiri dari dua pemeriksaan diagnostik ini:

1, emissionOtoacoustic (OAE): Dengan tes OAE, suara diarahkan ke telinga bagian dalam, yang menyebabkan rambut koklea menghasilkan suara lembut yang disebut emisi otoakustik.

Suara OAE ini diukur. Jika mereka lebih rendah dari normal, maka dapat dicurigai adanya gangguan pendengaran.

2. Automated auditory brainstem response (aABR): Dalam tes aABR, respons terhadap suara diukur melalui elektroda yang ditempatkan di kepala bayi.

Perawatan Kondisi Tuli Anak-anak

Setelah penyebab dan tingkat gangguan pendengaran anak Anda telah ditentukan, audiolog dan spesialis THT Anda akan menentukan opsi perawatan untuk anak Anda.

Opsi yang akan dibahas dapat mencakup beberapa hal berikut:

1. Alat Bantu Dengar

Alat bantu dengar adalah perangkat digital yang dikenakan setinggi telinga dan terdiri dari mikrofon, chip pemrosesan, amplifier, dan penerima.

Alat bantu dengar diprogram khusus untuk membantu memperkuat dan memproses suara yang mereka butuhkan untuk membantu mereka mendengar dengan jelas.

Untuk mencari alat bantu dengan dengan bimbingan profesional, Anda bisa menghubungi AQM Hearing Center. Berbagai alat bantu dengar modern tersedia untuk Anda.

2. Implan Koklea

Implan Koklea mungkin akan direkomendasikan ketika gangguan pendengaran anak sudah semakin parah.

Implan koklea adalah perangkat elektronik yang terdiri dari prosesor eksternal yang dipasang di belakang telinga.

Implan yang dipasang harus melalui pembedahan di koklea dan di bawah kulit. Implan koklea bekerja melewati sebagian besar anatomi telinga untuk merangsang saraf pendengaran.

Kesimpulan

Gangguan pendengaran Tuli Kongenital merupakan kondisi pengangaran tidak sempurna yang dialami seseorang sejak lahir, baik karena faktor genetik maupun non genetik.

Kondisi ini terjadi karena perkembangan sistem pendengaran yang belum sempurna saat bayi masih dalam kandungan.

Selain itu, kondisi ini juga bisa karena beberapa penyebab lainnya saat masa melahirkan, maupun paska melahirkan, seperti misalnya infeksi virus atau bakteri.

 

(Kontributor: Pramitha Chandra)

Open chat
1
Ingin konsultasi lebih dekat?
halo, ada yang bisa kami bantu?