Cara Deteksi Gangguan Pendengaran

deteksi gangguan pendengaran

Apakah anda mengalami penurunan kemapuan mendengarakan? Jika iya, maka anda perlu waspada adanya gangguan pendengaran pada telinga anda. untuk mengetahui adanya gangguan pada indra pendengaran, anda perlu melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya indikasi masalah pendengaran. Lalu bagaimana cara deteksi gangguan pendengaran? Hering Center Jakarta akan berbagi informasi penting seputar deteksi gangguan pendengaran. Yuk simak ulasan berikut ini bersama Hearing Center Jakarta!

Jenis-Jenis Tes Pendengaran

Cara deteksi gangguan pendengaran dapat dilakukan dengan cara melakukan tes pendengaran. Tes pendangaran ini terdiri dari beberapa jenis. Berikut AQM Hearing Center akan mengupas lebih dalam mengenai jenis-jenis tes pendengaran untuk deteksi gangguan pendengaran.

Tes bisik

Yang pertama ada tes bisik. Tes ini sangat umum dilakukan oleh dokter sebelum melakukan tes pendengaran lebih lanjut. Pada tes ini dokter akan meminta pasien untuk menutup lubang telinga, kemudian dokter akan mebisikkan kata lalu pasien diminta untuk mengulai kata tersebut. Dokter akan membisikkan kata tersebut dalam jarak kurang dari 1 meter. Hal ini bertujuan agar pasien tidak dapat membaca gerak bibir dokter. Apabila pasien dapat mengulangai kata tersebut lebih dari 50% maka pasien dapat melewati tes bisik.

Tes garpu tala

Pemeriksaan pendengaran selanjutnya yaitu tes garpu tala. Untuk melakukan tes pendengaran ini menggunakan bantuan alat berupa garpu tala yang memiliki frekuensi 256-521 Hz. Tes garpu tala ini berfungsi untuk mengetahui respon pasien jika ada suara atau getaran. Dokter akan melakukan tes ini pada tes weber dan tes rinne. Saat tes weber dokter akan membenturkan garpu tala dan menaruhnya pada bagain tengah dahi. Pada saat tes rinne, garpu tala yang telah dibenturkan akan diletakkan pada bagian belakang dan samping telinga. Kemudian dokter dapat mengetahu respon pasien terhadap getaran suara.

Baca Juga :  Mengenal Gejala dan Jenis Gangguan Pendengaran yang Perlu Kamu Waspadai

Tes audiometri tutur

Tujuan adari tes peemeriksaan audiometri tutur adalah untuk mengetahui tingkat kekerasan suara yang dapat didengarkan oleh pasien. Saat malakukan tes ini pasien akan menggunakan headphone kemudian dokter akan memperdengarkan bunyi perkataan dengan volume bervariasi dari rendah hingga ke tinggi. Selanjutnya dokter akan meminta pasien untuk mengulang kata-kata tersebut. Pemeriksan menggunakan tes audiometri tutur ini juga berfungsi untuk mengetahui kemampuan pendenagran pasien dalam menangkap kata-kata yang dokter ucapkan.

Tes audiometri nada murni

Selanjutnya yaitu ada tes audiometri dengan nada murni. Tes ini berbeda dengan tes audiometri tutur yaa. Berbeda dengan tes audiometri sebelumnya, tes audiometri nada murni ini menggunakan bantuan audiometer. Audiometer merupakan sebuah alat yang mampu menghasilkan nada murni untuk deteksi gangguan pendengaran. Dalam penggunaannya dokter akan meminta pasien untuk memakai headphone terlebih dahulu. Selanjutnya pasien akan mendengarak nada-nada dengan frekuensi dan intensitas bunyi yang bervariasi mulai dari 250 Hz sampai 8.000 Hz.

Brainstem audiotory evoker response (BAER)

Salah satu cara untuk deteksi gangguan pendengaran yaitu dengan melakukan tes Brainstem audiotory evoker response atau yang disebut BAER. Tes ini bertujuan untuk mengetahui respon otak terhadap suara tertentu. Saat melakukan tes ini dokter akan menempelkan elktroda pada ubun-ubun dan daun telinga pasien. Selanjutnya pasien akan mendengarkan bunyi melalui earphone dan mesin akan merekam respon otak pasien terhadap suara tersebut. Hasil tes BAER ini menunjukkan seberapa besar peningkatan aktivitas otak saat mendengar suara. Pasien yang tidak menunjukkan hasil peningkatan aktivitas pada otak kemungkinan mengalami ketulian. Hasil tes yang tidak normal ini mengindikasikan adanya gangguan pada otak atu sistem saraf pasien.

Baca Juga :  Fungsi Telinga Untuk Manusia

Otoacoustic Emissions (OAE)

Selanjutnya ada tes Otoacoustic emissions atau OAE. Tes ini biasanya dilakukan pada bayi yang baru lahir untuk deteksi adanya gangguan pendengaran. Namun tak hanya bayi saja, tes OAE ini juga sering dilakukan untuk orang dewasa. Tes OAE ini bertujuan untuk menentukan gangguan pada pendengaran pasien dan juga dapat mendeteksi adanya penyumbatan pada telinga. saat melaukan tes ini, pasien akan menggunakan earphone dan mikrofon. Earphone ini berfungsi untuk menghasilkan bunyi akan didengarkan oleh pasien. Sedangkan mikrofon berfungsi untuk menangkap respon pada koklea. Dalam pemerikasaan ini pasien tidak perlu memberikan tanda, kaena respon dari koklea akan terlihat di monitor.

Acoustic Reflex Measures (ARM)

Deteksi gangguan pendengaran juga bisa menggunakan tes Acoustic Reflex Measures (ARM) atau Midle Ear Muscle Reflex (MEMR). Dengan melakukan tes ini pasien dapat mengetahui respon dari telinga terhadap bunyi yang nyaring. Tes ini dilakukan dengan memsangkan karet kecil yang telah terhubung dengan mesin perekam. Setelah itu, pasien akan mendengarkan suara yang nyaring dan mesin akan merekam respons dari telinga pasein. Apabila pasien memerlukan suara yang keras untuk merespon adanya suara, kemungkinan besar pasien mengalami gangguan pada pendengaran.

Timpanometri

Tes timpanometri merupakan tes yang umum dilakukan untuk deteksi gangguan pendengaran. Timpanometri ini bertujuan untuk mengetahui kondisi gendang telinga pasien. Ada beberapa tahapan tes timpanometri yang perlu anda ketahui. Yang pertama dokter akan melakukan pemeriksaan pada liang telinga untuk mengetahui adanya kotoran telinga yang menyumbat. Apabila kotoran telinga menumpuk dokter akan membersihkannya terlebih dahulu agar bisa melakukan tes timpanometri. Setelah telinga bersih, pasien akan menggunakan earphone untuk mendengarkan adanya hembusan udara. Hembusan udara tersebut mengalir dengan tekanan yang berbeda-beda mulai dari rendah hingga tinggi.

Baca Juga :  Cara Kerja Telinga Saat Mendengar

Pada telinga normal hembusan udara tersebut akan membuat gendang telinga bergerak yang menunjukkan adanya respon terhadap suara. Gerakan telinga tersebut akan terlihat dalam bentuk grafik pada timpanogram. Dari grafik ini dokter dapat mengetahui adanya gangguan pendengaran seperti robekan pada gendang telinga atau cairan pada telinga. Hal yang harus anda perhatikan ketika melakukan tes timpanometri pasien harus diam, tidak boleh berbicara, bergerak, dan menelan karena akan berpengaruh pada hasil tes.

Nah itu tadi penjelsan mengenai jenis-jenis tes pendengaran yang berguna untuk deteksi gangguan pendengaran. Bagi anda yang ingin melakukan pemeriksaan pendengaran anda bisa mengunjungi AQM Hearing Center. Semua solusi dari masalah pada pendengaran anda dapat anda temukan di AQM Hearing Center. Sayangi telinga anda dengan deteksi gangguan pendengaran di Hearing Center Jakarta.